Santri Baru di Ponpes Al Zaytun Ternyata Masih Cukup Banyak

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Indramayu, H Aan Fathul Anwar
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Indramayu, H Aan Fathul Anwar

INDRAMAYU, BRITA!N – Polemik yang melanda Ponpes Al Zaytun Indramayu, yang berujung ditetapkannya Panji Gumilang sebagai tersangka kasus penistaan agama, ternyata tidak begitu berpengaruh terhadap lembaga pendidikan yang ada di dalamnya.

Buktinya, jumlah peserta didik baru yang mendaftar di Al Zaytun pada tahun pelajaran 2023/2024 ini masih cukup banyak.

Menurut Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Indramayu, H Aan Fathul Anwar, pada tahun pelajaran tahun 2023 ini, Ponpes Al Zaytun total menerima 1.076 santri baru.

Jumlah tersebut terdiri dari santri Madrasah Aliyah (MA) sebanyak 574 orang, Madrasah Tsanawiyah (MTs) 403 orang, dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebanyak 99 orang.

“Peserta didik baru masih banyak, dan yang menyusut hanya penerimaan santri untuk MI sebanyak  99 orang,” terang Aan.

Aan juga menjelaskan bahwa jumlah santri Al Zaytun cukup banyak. Data dari Kantor Kemenag Indramayu, secara keseluruhan total Al Zaytun memiliki santri sebanyak 4.383 orang.

“Jumlah itu terdiri dari santri MI sebanyak 1.118 orang, MTs sebanyak 1.602 orang, dan MA 1.663 orang,” jelas Aan Fathul Anwar.

Jumlah tersebut belum termasuk santri yang menempuh pendidikan tinggi di IAI Al-Aziz Al Zaytun, karena diluar kewenangan Kementerian Agama.

Aan Fathul Anwar juga mengungkapkan, Ponpes Al Zaytun merupakan pondok pesantren agrobisnis. Di dalamnya  terdapat beragam unit usaha. Seperti usaha air minum kemasan, usaha pertanian, perternakan, dan lain sebagainya.

Ponpes Al Zaytun juga memiliki kawasan hutan yang luas di dalam areal pondok pesantren. Di sana juga ditanam pohon jati emas.

Melihat sumber daya manusia (SDM) yang besar tersebut, Aan Fathul Anwar menilai, pembinaan terhadap Ponpes Al Zaytun harus dilakukan secara komprehensif.

Selain dibina dari sisi metode pelajaran, para santri di sana juga harus dibina dari berbagai aspek. Menurutnya, hal tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Agama saja, namun juga semua pihak.

“Negara juga harus hadir dalam pembinaan secara keseluruhan, karena Kementerian Agama hanya melakukan pembinaan di bidang pendidikan,” ujar Aan.

Aan juga menegaskan bahwa kurikulum yang berlaku di Al Zaytun selama ini sama dengan lembaga pendidikan lain dibawah Kementerian Agama, sudah sesuai dengan kurikulum tahun 2013.

Terkait dugaan adanya hidden kurikulum, Aan mengatakan bahwa untuk membuktikan hal tersebut tentunya lembaga penelitian dan pengembangan harus turun langsung untuk memantau.

Menyangkut pembinaan kedepan paska penetapan pimpinan Ponpes Al Zaytun Panji Gumilang sebagai tersangka, Aan menyatakan kalau pihaknya masih wait and see.

Meski demikian pihaknya akan melakukan pembinaan di bidang pendidikan dengan lebih intensif dibandingkan sebelumnya.

“Yang pasti terkait Al Zaytun ini pembinaan harus terus dilakukan lebih intensif. Kalau ada yang menyimpang dari norma agama maupun aturan pemerintah,tentunya harus diluruskan,” tandas Aan.(opa)

 

Berita Indramayu

Pusatnya berita indramayu

Related posts

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

ban11

Recent News